banguntri

Just another WordPress.com site

BAGIAN 3 KETAHANAN NASIONAL

pada November 30, 2011

A. PEMAHAMAN AWAL
1. Asal Usul Kata
Ketahanan Nasional berasal dari kata :
a) Ketahanan :
Tahan, yang berarti kata sifat, yang berarti kondisi, dimana sewaktu – waktu dapat berubah membaik atau pun memburuk. Dalam bahasa Inggris dikatakan sebagai RESILIENCE. Ini berbeda dengan pertahanan atau dalam bahasa Inggrisnya DEFENCE, yang lebih memiliki makna pasif, atau sekedar mempertahankan diri belaka.
b) Nasional :
Nasional dapat kita artikan sebagai Indonesia.
Oleh karena itu Ketahanan Nasional dapat di artikan sebagai :
Kondisi dinamis bangsa Indonesia yang berisi keuletan danketangguhan untuk dapat mengatasi segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang dating dari dalam maupun luar, demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kondisi dalam hal ini bersifat dinamis, maksudnya, pada suatu saat bisa saja, kondisi ini dalam keadaan prima / baik, namun tidak mustahil apabila pada saat – saat tertentu, dapat saja memburuk atau menurun. Membaik dan memburuknya kondisi ini, sangat bergantung kepada situasi dan kondisi yang terdapat pada masa tersebut.
2. Perkembangan Pemikiran Ketahanan Nasional
Pemikiran mengenai Ketahanan Nasionaldi Indonesia, muncul sebagai akibat dari kondisi Indonesia yang cukup heterogen, baik dilihat dari sisi alamiah maupun sisi sosialnya.
Dari sisi alamiah, Indonesia memiliki letak geografis yang sangat strategis, kekayaan alam yang melimpah, meskipun membutuhkan tehnik dan capital yang tidak mudah, serta ancaman ledakan penduduk dan distribusi yangkurang merata.
Dari sisi social, terdapat kondisi ketahanan nasional pada aspek ideology, dimana ideology Indonesia Pancasila, tidak lagi menjadi satu – satunya ideology yang ditawarkan, pada aspek politik, derasnya arus demokratisasi ala barat, yang menawarkan one man one vote sedikitbanyak mengancam demokrasi asli ala Indonesia, yang senantiasamengedepankan musyawarah untuk mufakat. Pada sisi Ekonomi, harga barang yang senantiasa naik dan ketergantungan kita pada barang – barang impor yang mengakibatkan lemahnya nilai rupiah juga senantiasa mengancam. Tidak kalah menariknya, sisi social budaya, dimana kita memiliki ribuan budaya yang masing – masing memiliki tata nilai dan normayang berbeda sebagai akibat perbedaan tempat tinggal ataupun kondisi alam tempat berdiam rakyat Indonesia. Last but not least, Sisi pertahanan & keamanan yang memerlukan pemikiran mendalam dengan mengingat luasnya wilayah territorial, serta kemampuan ekonomi Negara untuk meremajakan alutsistanya.
B. INDIKATOR KETAHANAN NASIONAL
1. Aspek Alamiah
Pada aspek alamiah yang terdiri dari ; letak geografis Indonesia, kekayaan alam Indonesia serta penduduk, merupakan anugerah dari Tuhan YME, dimana kita tidak dapat melakukan rekayasa demi kepentingan kita.
Pada sisi letak geografis misalnya, kita tidak dapat melakukan bargainingdengan Tuhan YME, dengan meminta dari pada memiliki wilayah kepulauan dengan 2 juta km2 daratan dan 3 juta km2 perairan, menjadi 3,5 juta km2 daratan yang disatukan serta 1,5 juta km2 kawasan perairan saja.
Demikian pula pada kekayaan alam, kita juga tidak dapat melakukannegosiasi dengan Tuhan YME, untuk mendekatkan kedalaman sumber minyak bumi kita dengan daratan untuk memudahkan eksplorasi dan eksploitasi misalnya.
Hal yang sama terjadi pula pada penduduk Indonesia, kita tidak dapat meminta kepada Tuhan agar menciptakan manusia – manusia unggul saja di Indonesia. Manusia yang kurang pintar, sakit – sakitan tidak usah dilahirkan di Indonesia misalnya.
Dengan kata lain, terhadap aspek alamiah kita tidak dapat melakukanrekayasa agar tercapai suatu kondisi seperti yang kita inginkan, namun kita harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang sudah ada.
2. Aspek Sosial
Berbeda dengan aspek alamiah, pada aspek social, kita dapat melakukan rekayasa, agar dapat dicapai suatu keadaan sesuai denga keinginan kita demi tercapainya kondisi ketahanan nasional yang kita harapkan. Pada aspek social ini, dapat kita lihat beberapa indicator yang bisa kita jadikan patokan dalam merekayasa keadaan.
a) Ideologi
Pada aspek Ideologi, terdapat beberapa indicator seperti :
· Sudahkah seluruh rakyat Indonesia menerima Pancasila sebagai ideology negara ?
· Masih adakah rakyat Indonesia yang menanyakan Pancasila sebagai ideology negara ?
· Adakah rakyat Indonesia yang ingin mengganti Pancasila sebagai ideology negara ?
Indikator tersebut dapat kita gunakan untukmengetahui apakah ketahanan nasional bidang ideology kita sudah kuat. Apabila ternyata diketahui adanya ancaman terhadap ideology negara, maka kita masih dapat melakukan tindakan – tindakan untuk melakukan pencegahan.
b) Politik
Pada aspek Politik, terdapat beberapa indicator seperti :
· Masihkah mekanisme musyawarah untuk mufakat dilaksanakan di Indonesia ?
· Bagaimanakah penerimaan rakyat Indonesia terhadap putusan yang dihasilkan atas dasar musyawarah untuk mufakat ?
· Adakah rakyat Indonesia yang menginginkan penggunaan demokrasi barat secara mutlak dalam kehidupan sehari – hari ?
Indikator tersebut dapat kita gunakan untukmengetahui apakah ketahanan nasional bidang politik kita sudah kuat. Apabila ternyata diketahui adanya ancaman terhadap bidang politik, maka kita masih dapat melakukan tindakan – tindakan untuk melakukan pencegahan.
c) Ekonomi
Pada aspek Ekonomi, terdapat beberapa indicator seperti :
· Bagaimanakah kondisi harga – harga barang dan jasa di Indonesia ?
· Bagaimana pula kondisi kurs mata uang Indonesia (rupiah) terhadap mata uang asing ? penerimaan rakyat Indonesia terhadap putusan yang dihasilkan atas dasar musyawarah untuk mufakat ?
· Surplus atau minuskah neraca perdagangan Indonesia terhadap negara asing ?
Indikator tersebut dapat kita gunakan untukmengetahui apakah ketahanan nasional bidang ekonomi kita sudah kuat. Apabila ternyata diketahui adanya ancaman terhadap bidang ekonomi, maka kita masih dapat melakukan tindakan – tindakan untuk melakukan pencegahan.
d) Sosial Budaya
Pada aspek Sosial Budaya, terdapat beberapa indicator seperti :
· Sudahkah tercipta sikap hidup yang damai di Indonesia di tengah kebhinekaan kondisi sosial dan budaya ?
· Masih adakah pemikiran tentang chauvinisme sempit dimasyarakat Indonesia, dengan mengagung – agungkan budaya sendiri dibandingkan budaya lain ?
· Adakah perselisihan yang masih timbul sebagai akibat interkasi antara social budaya suatu suku bangsa dengan suku bangsa yang lainnya ?
Indikator tersebut dapat kita gunakan untukmengetahui apakah ketahanan nasional bidang social budaya kita sudah kuat. Apabila ternyata diketahui adanya ancaman terhadap bidang social budaya, maka kita masih dapat melakukan tindakan – tindakan untuk melakukan pencegahan.
e) Pertahanan & Keamanan
Pada aspek Pertahanan & Keamanan, terdapat beberapa indicator seperti :
· Bagaimanakah kondisi crime index di Indonesia ?
· Adakah dark number yang cukup sigifikan di luar crime index resmi di Indonesia ?
· Apakah masih terdapat gangguan dari negara lain terhadap kedaulatanteritorial Indonesia ?
Indikator tersebut dapat kita gunakan untukmengetahui apakah ketahanan nasional bidang Pertahanan & Keamanan kita sudah kuat. Apabila ternyata diketahui adanya ancaman terhadap bidang Pertahanan & Keamanan, maka kita masih dapat melakukan tindakan – tindakan untuk melakukan pencegahan.
C. INTERAKSI ANTAR ASPEK – ASPEK DALAM KETAHANAN NASIONAL
1. Ideologi – Politik
Ideologi Pancasila melandasi setiap kegiatan politik di Indonesia, maka seyogyanya metode musyawarah untuk mufakat senantiasa dikedepankan dalam setiap proses politik.
2. Ideologi – Ekonomi
Ideologi Pancasila juga melandasi perekonomian di Indonesia, sehingga kegiatan perekonomian senantiasa mendasarkan pada pasal 33 UUD, yang salah satunya adalah denga mengedepankan azas kekeluargaan dan prinsip usaha bersama.
3. Ideologi – Sosial Budaya
Bahwa Pancasila sebenarnya merupakan kristalisasi budaya di Indonesia, sehingga tidak ada alas an untuk menjadikan budaya sebagai alat pemecah di Indonesia.
4. Ideologi – Hankam
Sebagai dasar dalam mempertahankan kedaulatan, Panca Sila merupakan landasan dalam memupuk rasa cinta tanah air, serta menciptakan rasa aman bagi masyarakat Indonesia.
5. Politik – Ekonomi
Pengembangan konsepsi ekonomi Pancasila yang berbasis pada ekonomi kerakyatan, sangat tergantung dari political will pemerintah.
6. Politik – Sosial Budaya
Political will pemerintah harus senantiasa mengarah kepada pengembangan social budaya di Indonesia, dan bukannya memberikan sumbangan yang kontra produktif terhadap pengembangan social budaya di Indonesia, seperti RUU APP tempo hari.
7. Politik – Hankam
Perlunya penciptaan regulasi / peraturan yang mendukung terciptanya kondisi kamtibmas yang kondusif di Indonesia, serta terjaganya kedaulatan NKRI.
8. Ekonomi – Sosial Budaya
Untuk meningkatkan kondisi ekonomi, kita harus pula melihat bagaimana sisi budayanya, misalnya : konsepsi mangan ora mangan anggere ngumpul merupakan penghambat dalam kita mencoba meningkatkan perekonomian masyarakat jawa, melalui jalur transmigrasi.
9. Ekonomi – Hankam
Dalam meningkatkan kondisi hankam, tidak terlepas pula dari peremajaan alutsista, namun yang perlu mendapat perhatian adalah kemampuan keuangan negara.
10. Sosial Budaya – Hankam
Penciptaan suasana yang kondusif dalam interaksi antar budaya yang berbeda di Indonesia, serta perlunya penciptaan nilai bela negara serta menumbuh kembangkan norma – norma tentang bela negara.

data source : koesoemadjiacademic.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: